"Sempit bukan? Dunia kita. Apa bisa aku benar-benar lari darimu? Bahkan aku yakin aku belum meninggalkan kursi itu. Dalam pikiranku, pikiranmu, terukur jalan yang berkalilipat panjangnya daripada dunia kita. Labirin yang berkelok, satu kelam, satu sesak. Tidak masalah. Suatu hari nanti aku akan datang kepadamu membawa sejuta pelukan dari dunia yang sempit ini. Yang memborgol asaku untuk bermuara padamu. Yang egois dan tidak merindukan cintamu kepadanya (dunia kita itu). Suatu hari nanti, aku akan berlutut menggenggam tanganmu yang dingin, mencari tatapanmu yang marah. Dunia kita akan terkejut betapa aku bisa meredam keakuanku untukmu, juga betapa kau bisa tertekuk pada bayangan hitamku. Lalu kita akan berlalu dan hidup dalam mimpimu, atau mimpiku, jika kau mau. Kilometer-kilometer itu akan bersenandung iri melihat langkah kita, tapi mereka bahagia, sudah lama kita tidak bahagia. Aku tidak peduli berapa kali kita harus terjatuh. Tidak masalah. Nanti toh aku bersamamu, satu bagian besar dari segala yang kubutuhkan. Aku tidak peduli berapa kali buihku harus meyakinkanmu bahwa kau, untukku. Karena kau untukku, kalau kau memang untukku. Akupun tidak takut jika nanti dunia dimenangkan oleh hujan yang melucuti sentuhmu, dan aku tidak akan lagi marah pada mega. Karenamu. Takutkah kau akan waktu? Jangan, waktu tidak habis, tidak untuk firman. Dan jika memang tidak ada lagi waktu untuk maumu, harusku, maka kemarin adalah sore yang cukup indah. Jangan datang padaku di petang yang salah, aku tidak akan bergeming. Bertemanlah dengan masa, dan dirimu sendiri, sisakan sedikit ruang untuk pulangku, jika akhir takdirku. Jangan kau melihat dunia yang sempit itu, dunia kita itu. Yang sesak, dan nisbi. Kau, aku, tidak tercipta untuk dunia itu. Tunggu, tidak, jangan tunggu. Maju sajalah, arus kita tak jauh. Ini dunia yang sempit. Ia tidak mampu meneropong puncak Hira insan manapun, jika suatu hari mereka mendaki, dan bertatap."
Surabaya, 26 November 2012
Saya
No comments:
Post a Comment